Saturday, September 20, 2014

KISAH KEHIDUPAN DI PADANG-PADANG KEEMASAN - TRILOGI WARNA





"Trilogi indah tentang cinta pertama dan kesempatan-kesempatan kedua. Melukis kehidupan para wanita dengan hujan dan bunga. Warna Tanah menceritakan kehidupan dan dunia dari mata dua generasi perempuan. Ehwa, gadis cilik yang tinggal bersama ibunya, janda di Namwon. Ehwa baru saja memulai perjalanannya menjadi seorang wanita. Bersama setiap musim hujan, Ehwa kecil semakin matang dalam pikiran maupun tubuh. Ehwa dan ibunya sama-sama bertumbuh dan berubah, namun ikatan yamg sangat dalam di antara ibu dan anak ini membuat mereka saling mendukung dalam menghadapi dunia dan lingkungan sekitar yang tidak selalu ramah."

"Kim Dong Hwa telah menghasilkan banyak novel grafis yang cemerlang. Dalam Warna Tanah, Mr.Kim mencurahkan segenap talentanya untuk menciptakan kisah yang unik dan tak terlupakan, sarat dengan refernsi kultural serta gambar-gambar indah."

Pertama kali melihat komik Korea ini saya langsung tertarik untuk membungkusnya. Trilogi Warna yang terdiri dari 3 jilid yaitu Warna Tanah, Warna Air dan Warna Langit. Ukuran komiknya besar, kualitas kertasnya bagus serta diberikan pembatas buku. Setiap jilidnya berisikan 300-an halaman, isinya menjadi semakin tebal karena kualitas kertasnya yang juga tebal.
Komik ini bercerita tentang kehidupan anak perempuan bernama Ehwa yang tinggal bersama ibunya, seorang janda yang mengelola sebuah kedai minum di kota Namwon pada akhir abad kesembilan belas. Ehwa kecil mulai bertanya-tanya kepada dirinya sendiri dan ibunya kenapa dia dan anak laki-laki berbeda secara fisik. Sang ibu pun menjelaskan secara perlahan kepada Ehwa mengapa dirinya berbeda dengan anak laki-laki. Sebagai seorang janda, sang ibu juga tidak menampik jika merasa kesepian dan mendambakan sosok laki-laki sampai suatu ketika hatinya tertambat kepada seorang pria pengembara yang bekerja sebagai tukang gambar keliling. Bertambahnya waktu Ehwa pun mengalami masa puber. Mulai tumbuh perasaan suka kepada anak laki-laki. Bersama sang ibu, mereka berdua saling berbagi keluh kesah sembari menantikan kedatangan laki-laki yang mereka cintai.

Kim Dong Hwa
Komik Korea ini sangat unik berbeda dengan komik-komik lain yang pernah saya baca. Gambarnya unik tetapi bagus dengan latar belakang yang detail. Gaya berceritanya menggunakan kalimat-kalimat puitis yang lebih bisa dimengerti dan nyaman dibaca dibandingkan ketika saya membaca komik-komik yang diadaptasi dari karya Shakespeare. Pembaca diajak mengikuti perjalanan hidup Ehwa bersama ibunya sejak Ehwa kecil sampai Ehwa menikah dengan pasangan hidupnya. Pertanyaan-pertanyaan Ehwa mengenai perubahan pada dirinya dan mulai menjurus ke arah seksualitas dijawab dengan bijak oleh sang ibu dengan menggunakan kata-kata kiasan. Mengambil kata-kata kiasan yang begitu indah dari bunga-bunga, pohon dan binatang yang hidup di lingkungan mereka tinggal. Beberapa adat istiadat Korea juga ditampilkan dalam komik ini beserta makna di baliknya.
Berbagai masalah hidup dialami oleh Ehwa dan ibunya seperti sang ibu yang kerap mengalami godaan dari para lelaki pengunjung kedai minum. Juga ketika sang ibu menolak mentah-mentah tawaran dari Nenek Dukun agar mau melepas Ehwa untuk dipinang Master Cho, laki-laki tua mesum yang kaya. Serta ketika Duksam, kekasih Ehwa yang terpaksa harus pergi karena nyawanya terancam setelah terlibat keributan dengan Master Cho. Begitu puitis kata-kata Duksam ketika berpamitan kepada Ehwa, 'Maaf! Maaf, aku meninggalkanmu dengan air mata membasahi pipimu, sementara aku tak dapat menghapusnya.'
Untuk penggemar karya-karya sastra, komik ini sangat direkomendasikan dan bisa menjadi referensi salah satu karya sastra Korea yang indah.

Nilai = 9.5/10
Pengarang  = Kim Dong Hwa
Gambar = Kim Dong Hwa
Jumlah Buku = 3 (tamat)
Penerbit = Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit di Indonesia = 2010 - 2011
Jenis =  Drama, Romance, Slice of Life
DQ Review Komik


Contoh Gambar

No comments:

Post a Comment